Aktivitas para pembina program PKSAJ kota makassar dalam melakukan kegiatan dilapangan. Mereka para pembina tidak segan segan dalam melakukan kegiatan, dalam hal ini dimanapun kegiatan itu dilaksanakan. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan kegiatan pembinaan didekat kanal yang berada disebuah kelurahan dikota makassar. Mereka berbagi kepada para adik - adik yang kurang mendapatkan pelajaran dibangku sekolah.
Senin, 03 Juni 2013
Rabu, 17 April 2013
PERTEMUAN DAN PEMBINAAN PERDANA PKSAJ 2013
Pertemuan perdana Pendampingan PKSAJ pada tangga 04 April 2013, setelah tim
pendamping mengikuti pelatihan dan pendidikan Tenaga Kesejahteraan Sosial
Masyarakat di Balai Besar Diklat kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial Republik
Indonesia kembali dilaksanakan. Sebulan sebelumnya tim pendamping dari Yayasan
Peduli Negeri melakukan investigasi kepada sasaran penerima manfaat yang berada
di wilayah adiyaksa. Pembukaan buku rekening pada bank Tabungan Negara sejumlah
50 anak telah rampung dibukakan dan diberi santunan sejumlah Rp 1.500.000 per
anak. Pada pertemuan kali ini yang dilakukan di jalan Adiyaksa lorong 7 depan
rumah Pak RT, ada banyak anank yang ikut terlibat. Bukan hanya penerima manfaat
yang hadir pada pertemuan tersebut tetapi sejumlah anak baru yang juga turut
mendaftarkan dirinya sehingga bisa juga berharap mendapatkan bantuan yang sama
sesuai yang didapatkan oleh penerima manfaat 50 anak sebelumnya. Kehadiran
anak-anak baru ini membuat panitia kewalahan dalam proses pembelajaran yang
tersistematis. Kebanyakan anak belum terambil data by name, by address dan bay
picture sehingga tim pendamping melakukan pengambilan data secara rinci lagi bagi
anak yang baru sekaligus memberikan pengarahan mendasar bagi anak anak yang
telah berkumpul. Pertemuan pada malam itu pula dihadiri beberapa orang tua yang
ingin menyaksikan kegiatan berlajar anak-anak, dengan penerangan yang minim dan
kelengkapan seadanya tim pendamping berhasil memikat hati anak-anak dengan
mengajarkan untuk dihapal janji anak sehat sebagai komitmen dalam setiap
pertemuan. Semangat anak-anak kembali riuh ketika tim pendamping melakukan
permainan yang menarik yang melombakan antar individu mereka sekaligus
bercerita dongen kepada mereka. Di akhir pertemuan mereka kembali dibagi
kelompok dalam jumlah besar yang memisahkan mereka antar lorong yang kemudian
mereka diarahkan untuk mendengarakan arahan terakhir sebelum kemabli ke rumah.
Tepat pukul 10.00 WITA mereka dipulangkan kerumah masing-masing dan menunggu
pertemuan selanjutnya di pekan yang akan datang.
Minggu, 17 Maret 2013
Pengambilan Dana PKSA
Dana PKSA merupakan dana yang diterima oleh para ibu - ibu yang mendapatkan bantuan PKSA ini, dimana dana ini dimaksudkan untuk memenui kebutuhan anak. Adapun dana yang diberikana nantinya dipergunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lain yang berguna bagi si anak dan dana ini tidak dapat dipergunakan dengan seenaknya oleh para orang tua, karena setiap pengambilan dana harus diketahui oleh lembaga/yayasan pelaksana kegiatan ini yaitu Yayasan Peduli Negeri.
Minggu, 24 Februari 2013
PENDAMPINGAN PKSA
Pendataan yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim
pendamping PKSA di wilayah Adiyaksa rampung mendata penerima manfaat untuk
tahun 2013. Sebanyak 50 anak dari keluarga tidak mampu dengan aktivitas
keseharian adalah pengemis telah terdata dengan rapi, mereka telah dibukakan
buku tabungan rekening di Bank Tabungan Negara (BTN). Para orang tua yang
tergabung dalam penerima manfaat pada tahun ini termasuk sebagian dari ibu dana
anak dari tahun sebelumnya.tetapi ada banyak pula orang tua dan anak yang akan
bergabung dalam menerima manfaat ini, mereka berbondong bondong mendatangi tim
pendamping untuk bisa mendapatkan bantuan yang sama. Peluang yang dianggap
menguntungkan ini telah memberi magnet bagi ibu dan anak yang beum pernah
bergabung dengan pendampingan ini. Seakan hal yang dijadikan usaha mati-matian
untuk bisa mendapatkan bantuan, tetapi tim pendamping PKSA tetap mengumpulkan
data mereka dan menyeleksi secara ketat untuk pendampingan tahun ini. Ada
banyak cara para ibu dan anak yang baru ini untuk bisa mempengaruhi tim
pendamping agar bisa mendapat bantuan, ada yang memelas dengan kondisi keluarga
yang disampaikan secara renta, adapula dengan cara ngotot dan emosi
menyampaiakan niat dan maksud untuk bisa mendapat dukungan lolos seleksi.
Pertemuan
dan penyampaian pada pekan ini di jalan Adiyaksa Baru LR 7 di depan Rumah Pak
RT selanjutnya akan memberikan pengarahan dalam pemilihan penerima manfaat.
Penyampaian dan pengarahan oleh tim pendamping pada pertemuan kali ini adalah
mekanisme pendampingan untuk anak penerima manfaat, mekanisme pengusualan
penarikan dana yang telah ditabung dan model sanksi yang akan diberikan kepada
penerima manfaat jika melanggar aturan dan kesepakatan yang telah dibuat dari
tim pendamping, peraturan daerah, dan juga kriminalitas. Antusias penerima
manfaat yang hadir pada pertemuan begitu tinggi untuk mendengarkan arahan
dengan seksama. Dengan arahan ini para penerima manfaat banyak yang bertanya
untuk keadaan selanjutnya, apakah masih ada peluang untuk mendapatkan bantuan.
Tim pendamping menyampaikan tetap ada peluang untuk bantuan penerima manfaat
selanjutnya tetapi akan diterapkan sistem tunggu dan seleksi usia dan status
sekolah.
Selasa, 12 Februari 2013
Stop Beri Uang Kepada Pengemis dan Pengamen Jalanan
Dalam tiga tahun terakhir, pengemis dan pengamen di sejumlah lampu merah
(traffic light) di Kota Makassar tumbuh subur. Keberadaan pengemis dan
pengamen jalanan ini kerap membuat pengguna jalan resah lantaran ada
beberapa pengamen dan pengemis terkesan memaksa saat meminta kepada
pengguna jalan.
Namun, Pemkot Makassar seakan tutup mata atas realitas sosial ini.
Padahal, DPRD Kota Makassar telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2
Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan (anjal), Gelandangan, Pengemis
dan Pengamen. Pemkot malah dituding tidak bertaji menegakkan perda ini.
Lantas bagaimana tanggapan Pemkot atas realitas dan beragam pendapat soal keberadaan anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen. Untuk mengetahui langkah-langkah apa yang telah dilakukan Pemkot, wartawan BKM melakukan wawancara dengan Kepala Dinas Sosial Dr Burhanuddin, Jumat (4/1). Berikut petikannya.
Lantas bagaimana tanggapan Pemkot atas realitas dan beragam pendapat soal keberadaan anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen. Untuk mengetahui langkah-langkah apa yang telah dilakukan Pemkot, wartawan BKM melakukan wawancara dengan Kepala Dinas Sosial Dr Burhanuddin, Jumat (4/1). Berikut petikannya.
BKM: Sejauh mana upaya Dinas Sosial menekan jumlah anak jalanan (anjal), gelandangan, pengemis dan pengamen di Makassar?
Burhanuddin: Kami telah melakukan beberapa upaya. Selain melakukan razia, kami juga telah mendirikan 10 titik posko penanganan anjal di Makassar. Bahkan, kami terus melakukan sosialisasi baik melalui media cetak maupun elektronik agar para pengguna kendaraan yang melintas tidak memberikan uang kepada mereka. Kami minta kepada pengguna jalan untuk berhenti memberikan uang kepada anjal, gelandangan, pengemis dan pengamen. Kalau ingin menyumbang, kami sarankan untuk menyumbang melalui lembaga resmi yang ditunjuk. Dengan begitu, kami yakin jumlah anjal dan pengamen di Makassar bisa berkurang.
BKM: Kenapa Dinsos harus mendirikan posko?
Burhanuddin: Posko ini bertujuan bukan untuk penertiban melainkan untuk membina anjal dan pengamen terkait dampak dari aktifitas mereka di jalan. Kami ingin mereka tidak mendapat musibah seperti kecelakaan serta mengganggu aktifitas lalulintas.
BKM: Dimana saja posko pembinaan akan dibangun?
Burhanuddin: Ada 100 lebih titik potensi aktifitas anjal dan pengamen di Makassar, namun untuk langkah awal kami baru mendirikan 10 posko. 10 posko ini masih kami survei dimana saja yang paling banyak menimbulkan dampak dari aktifitas mereka.
BKM: Siapa saja yang akan menempati posko pembinaan tersebut?
Burhanuddin: Posko itu akan ditempati tim terpadu yang berasal dari Dinsos sendiri, Satuan Polisi Pamong Praja (Pol-PP) serta sejumlah LSM anak. Mereka akan memberikan pembinaan berupa pemahaman terhadap dampak ketika para anjal beraktifitas di jalan dan mencari solusi atas persoalan mereka.
BKM: Apa hanya sebatas pembinaan saja?
Burhanuddin: Kami juga akan melakukan penindakan melalui tim penindakan yang terdiri dari Satpol- PP dan Tripika setiap kecamatan. Penindakan akan kami lakukan jika pendekatan persuasif yang kami lakukan tidak membuahkan hasil.
BKM: Berdasarkan data yang ada di Dinas Sosial, sebenarnya berapa jumlah anjal, gelandangan, pengemis dan pengamen di Makassar?
Burhanuddin: Soal jumlah anjal di Makassar bersifat fluktuatif, tapi dari data terakhir tahun 2012 kami mencatat ada 418 anak jalanan yang beraktifitas di beberapa ruas jalan utama. Tapi angka ini selalu berubah-ubah disebabkan adanya "pendatang baru" yang kebanyakan datang dari daerah lain di luar Makassar.
BKM: Lalu bagaimana soal anggaran penanganan anjal, apa sudah maksimal?
Burhanuddin: Kita tidak bisa menyebutkan jika anggaran yang dialokasikan setiap tahun untuk penanganan anjal masih kurang atau lebih. Tidak bisa kita mengatakan besar atau kurangnya anggaran yang dialokasikan untuk anjal. Namun, menurut saya yang terpenting adalah bagaimana anggaran yang ada bisa dioptimalkan dengan baik. Tahun 2013 ini anggaran penanganan anjal yang kami kelola sebanyak Rp 225 juta. Dana ini untuk membiayai kebutuhan operasional tim terpadu yang kami bentuk, sosialisasi sekaligus pengadaan sarana posko seperti tenda dan kursi.
BKM: Sekarang, kebanyakan para pengamen di lampu merah bukan hanya dari kalangan bawah, tetapi kebanyakan mahasiswa. Bagaimana Dinas Sosial mengatasi hal ini?
Burhanuddin: Kehadiran para pengamen dari kalangan pelajar dan mahasiswa sebenarnya bukan untuk mendapatkan uang, tetapi hanya ingin mengeskpresikan apa yang mereka miliki. Namun apapun itu, aktifitas mengamen atau meminta sumbangan di jalan bukanlah langkah yang baik. Pasalnya akibat aktifitas mereka, bisa berdampak pada keselamatan mereka serta kenyamanan bagi pengguna jalan yang lain. (syafril)
Burhanuddin: Kami telah melakukan beberapa upaya. Selain melakukan razia, kami juga telah mendirikan 10 titik posko penanganan anjal di Makassar. Bahkan, kami terus melakukan sosialisasi baik melalui media cetak maupun elektronik agar para pengguna kendaraan yang melintas tidak memberikan uang kepada mereka. Kami minta kepada pengguna jalan untuk berhenti memberikan uang kepada anjal, gelandangan, pengemis dan pengamen. Kalau ingin menyumbang, kami sarankan untuk menyumbang melalui lembaga resmi yang ditunjuk. Dengan begitu, kami yakin jumlah anjal dan pengamen di Makassar bisa berkurang.
BKM: Kenapa Dinsos harus mendirikan posko?
Burhanuddin: Posko ini bertujuan bukan untuk penertiban melainkan untuk membina anjal dan pengamen terkait dampak dari aktifitas mereka di jalan. Kami ingin mereka tidak mendapat musibah seperti kecelakaan serta mengganggu aktifitas lalulintas.
BKM: Dimana saja posko pembinaan akan dibangun?
Burhanuddin: Ada 100 lebih titik potensi aktifitas anjal dan pengamen di Makassar, namun untuk langkah awal kami baru mendirikan 10 posko. 10 posko ini masih kami survei dimana saja yang paling banyak menimbulkan dampak dari aktifitas mereka.
BKM: Siapa saja yang akan menempati posko pembinaan tersebut?
Burhanuddin: Posko itu akan ditempati tim terpadu yang berasal dari Dinsos sendiri, Satuan Polisi Pamong Praja (Pol-PP) serta sejumlah LSM anak. Mereka akan memberikan pembinaan berupa pemahaman terhadap dampak ketika para anjal beraktifitas di jalan dan mencari solusi atas persoalan mereka.
BKM: Apa hanya sebatas pembinaan saja?
Burhanuddin: Kami juga akan melakukan penindakan melalui tim penindakan yang terdiri dari Satpol- PP dan Tripika setiap kecamatan. Penindakan akan kami lakukan jika pendekatan persuasif yang kami lakukan tidak membuahkan hasil.
BKM: Berdasarkan data yang ada di Dinas Sosial, sebenarnya berapa jumlah anjal, gelandangan, pengemis dan pengamen di Makassar?
Burhanuddin: Soal jumlah anjal di Makassar bersifat fluktuatif, tapi dari data terakhir tahun 2012 kami mencatat ada 418 anak jalanan yang beraktifitas di beberapa ruas jalan utama. Tapi angka ini selalu berubah-ubah disebabkan adanya "pendatang baru" yang kebanyakan datang dari daerah lain di luar Makassar.
BKM: Lalu bagaimana soal anggaran penanganan anjal, apa sudah maksimal?
Burhanuddin: Kita tidak bisa menyebutkan jika anggaran yang dialokasikan setiap tahun untuk penanganan anjal masih kurang atau lebih. Tidak bisa kita mengatakan besar atau kurangnya anggaran yang dialokasikan untuk anjal. Namun, menurut saya yang terpenting adalah bagaimana anggaran yang ada bisa dioptimalkan dengan baik. Tahun 2013 ini anggaran penanganan anjal yang kami kelola sebanyak Rp 225 juta. Dana ini untuk membiayai kebutuhan operasional tim terpadu yang kami bentuk, sosialisasi sekaligus pengadaan sarana posko seperti tenda dan kursi.
BKM: Sekarang, kebanyakan para pengamen di lampu merah bukan hanya dari kalangan bawah, tetapi kebanyakan mahasiswa. Bagaimana Dinas Sosial mengatasi hal ini?
Burhanuddin: Kehadiran para pengamen dari kalangan pelajar dan mahasiswa sebenarnya bukan untuk mendapatkan uang, tetapi hanya ingin mengeskpresikan apa yang mereka miliki. Namun apapun itu, aktifitas mengamen atau meminta sumbangan di jalan bukanlah langkah yang baik. Pasalnya akibat aktifitas mereka, bisa berdampak pada keselamatan mereka serta kenyamanan bagi pengguna jalan yang lain. (syafril)
Tentang PKSA
Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) akan menjadi prioritas
nasional Kementerian Sosial RI untuk mewujudkan pemenuhan hak dasar anak
dan perlindungan terhadap anak dari penelantaran, eksploitasi dan
diskriminasi. Bahkan untuk mendukung program tersebut, dalam 5 (lima)
tahun ke depan anggarannya dikucurkan dari APBN.
“Pemerintah harus merasa malu dengan banyaknya lembaga kesejahteraan
sosial anak yang begitu mandiri, transparan, jujur dan memiliki komitmen
yang tinggi untuk memberikan pelayanan bagi keluarga miskin,”kata
Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri saat membuka Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) di Cikarang, Kamis
(25/3) malam.
Dijelaskan dia, melalui Rakernas akan diperoleh spirit baru bagi
seluruh stake holders untuk memberi perhatian penuh pada anak terutama
dari keluarga sangat miskin.
Ia mengingatkan kepada seluruh Dinas/Instansi Sosial di Provinsi dan
Kabupaten Kota agar lebih memperhatikan pemanfaatan subsidi pemenuhan
kebutuhan dasar anak melalui panti agar bisa dirasakan bantuan tersebut.
“Kita tidak berharap 135.014 anak yang dibantu hanya dalam angka saja
tetapi harus sampai kepada si anak. “Berdosalah bagi siapapun yang
memakan bagian anak yatim dan miskin,”tegas nya.
Selain itu tambah dia jangan mengurangi dan merevisi bantuan
perlindungan sosial anak untuk12.307 dengan bantuan antara Rp 1.4 juta
hingga Rp1.8 juta.
Hasil evaluasi ujicoba PKSA tahun 2009 terhadap anak jalanan dan
terlantar sekarang (2009) sebanyak 1.375 anak-anak jalanan dan terlantar
sudah mempunyai buku tabungan melalui PKSA . Melalui Gerakan Nasional
Penyelamatan Anak Mensos berharap anak dapat terhindar dari eksploitasi
ekonomi, kekerasan, tidak terlantar dan tidak diperlakukan
diskriminatif.
Dalam pada itu Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kemensos,
Makmur Sunusi mengatakan pada Tahun 2010 anggaran PKSA telah tersedia
sebesar Rp 271 miliar yang akan dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan
dasar, aksesibilitas pemenuhan pelayanan sosial dasar dan penguatan
tanggung jawab orang tua serta penguatan peran lembaga sosial anak
dengan rincian sebagai berikut:
1. Anak Balita terlantar (1.405 anak)
2. Anak terlantar ( 135.014 anak)
3. Anak Jalanan (6.173 anak)
4. Anak berhadapan hukum (430)
5. Anak dengan kecacatan (2.041 anak)
6. Anak yang memerlukan kebutuhan khusus (2.258 anak).
2. Anak terlantar ( 135.014 anak)
3. Anak Jalanan (6.173 anak)
4. Anak berhadapan hukum (430)
5. Anak dengan kecacatan (2.041 anak)
6. Anak yang memerlukan kebutuhan khusus (2.258 anak).
Jumlah keseluruhan penerima bantuan PKSA tahun 2010 sebanyak 147.321
anak yang didistribusikan di 33 provinsi, yang dikelola pusat Rp 251
miliar dan melalui dekonsentrasi sebesar Rp 20 miliar. (RP)
Langganan:
Postingan (Atom)